PELUKAN PUTERI EMBUN
Tenang di jiwa menggugah nadi
Disetiap desir darah
Hangat mengalir meninabobokkan ego
Tak ada yang aneh
Hanya aku damai dipelukan puteri embun
Ku mengharap hangat sampai mentari tidur dipeluk senja
Aku aman dipelukan puteri embun
Seraya dia berbisik tentang kejahatan waktu
Aku gemetar
Aman jadi ricuh
Tak ingin kehangatan cepat memudar dipenitrasi salju waktu
Bibir bergeming ketakutan pasti
“Bisakah puteri embun menghangati sampai senja menutup mata?”
PUTRI EMBUN I
Aku bergelantung dipedang itu
Jamahan Puteri Embun sangat kubutuhkan
Berharap ia tahu akan perasaan ini
Saat gejolak hati tak tersampaikan
Embun ini adalah kerapuhanku
Maka jemputlah rasa ini
Atau dibiarkan saja!
Hingga luruh bersama tembang senja
Dan akhir namaku diatas nisan
PANCAR SINAR PUTERI EMBUN
Berlumur najis
Berlutut dibawah larangan-Mu
Seperti tak punya Tuhan
Dicumbui dosa menjanjikan kenikmatan
Tuhan, ciptakanlah bayangan puteri embun selalu dalam khayalku
Sebagai sebagai sejadah menuju ridlo-Mu
DEMI PUTERI EMBUN
Larut dalam keinginan semata
Iblis menjiwa separuh roh, pembuat dosa
Kutulis puisi ini dengan jari berlumur dosa
Bayangan Puteri Embun sebagai saksi
“Aku tak akan mengulangi lagi”
Demi Puteri Embun
Dalam setiap hembus nafas yang selalu memperingati
Dengan kecantikan penerang hati
Dalam gua gelap-gulita berteman sepi
“Aku akan berubah”
Demi Puteri Embun
Yang tidak aku cintai hanya karena kecantikan semata
Getar hati sebagai fakta tentang ini cinta
Sebagai pilar cinta adalah rasa
“Aku akan berubah”
Demi Puteri Embun
Meski engkau tidak pernah memikirkanku
Tapi aku akan selalu memikirkanmu
Karena engkau adalah sabda Tuhan dalam hidupku
“Aku akan berubah”
Demi Puteri Embun
Senyummu dalam benak, bertahta selalu dalam hidupku
Kecantikanmu sebagai singgasana akan cintaku
Dalam menembus kabutnya waktu
“Aku akan berubah”
Hadirnya bayanganmu mengubah hidupku
Tak ingin hati melepas bayangan itu
Dan segala dariku mengharap hadirmu disisiku selalu
Kesudian berkunjung bayanganmu!
“Terima kasih “
Puteri Embun
AKU TIDAK BISU
Sumpah, lidah ini kaku saat memandangmu
Untuk bicara tak lagi
Bahasaku lain sudah
Saat puteri embun membasahi jiwaku
Beningnya tetes melayangkan pikiran
Bercumbu di negeri khayal
Sejuta kata yang kurangkai membukit di hatiku menggunung di pikiranku
Tidakkah engkau mengerti tingkahku?
Tidakkah engkau mengerti senyumku?
Tidakkah engkau mengerti sinar mataku?
Disana!
Dikedalaman hatiku
Tersimpan harapan menyatu denganmu



