Pages

Subscribe:

Besok Badai Menerjangmu

Kalau embun bergelantung
Lalu dentum angin menghempas
Tak kan ada secercah tetes
Tak kan ada pula sebening air di dalam dirimu

Jangan menganggap kalau badai
akan datang tahun depan
Mereka bergerombol siap menerkam
Jika kamu tetap bergelantung pada sebuah dahan
Karena bukan alasan
Setetes bening hingga menjadi kecongkaan
Dan kau tak akan menetes
Meski pada kehausan anak Adam membekas

Kau nanti akan sadari
Bahkan besok badai bakal menerjang disini
Tak satu dahan pun memegangimu
Dedaunan memapah mengantarmu
pada kematian yang kau anggap enteng pada masa semu

Dewi Salju

Dewi salju
Indah kala kelabu
Tak jemu dirundung semu
Warnai altar berdebu
Disabit bergelantung syahdu

Dewi salju
Bening di indah pelangi tak berdebu
Goyahi hati bertalu
Semaikan dikedalaman hati sajak rindu
Tak mampu lucuti ikrar menggebu di dada
Bersma hati ingin memilikimu selamanya

Dewi salju
Karenamu setumpuk asa dalam mutiara
Menyemai indah cinta membara
Bersama angin pilu menunggu asmara
Menyulam siul tentang glegah di dada

SAHABAT SEJATI

terUntuk;
NUR FITHRI -teman sejatiku-
(Fith...dikau skarang dimana?)



Mawar di lembah
dapat layu..
Kesenangan masa muda
dapat berlalu...
Tapi, persahabatan sejati ...
tak kan lapuk dimakan waktu....



By; iien bundanya vinie dan tito
www.radianceskin.info
www.iiench.blogspot.com

DI DALAM ANGKOT

Angkot I

“Dari mana, Om?”
Kalau setiap kata adalah keleluasaan hati
Untuk bertanya pada apa yang ada
Tak akan membatasi
Tak akan terbatasi
Oleh kesenjangan

Angkot II

“Mau kemana, Kak?”
Untuk beratanya pada siapa
Untuk menyapa pada siapa
Semua begitu mudah
Terasa ringan melontarkan

Angkot III

“Turun mana, Dik?”
Tak ada salahnya menghargai
Itu karena sama dalam bingkai hidup
Menyapa tanpa kelu

Angkot IV

“Dari mana, Mbak?”
Tak mungkin bagiku
Yang ada dalam hati
Berkecamuk
Tak kuasa lontarkan
Tak kuasa ucapkan desah hati

RUMAH KUMUH DAN GEMBOK BERSAKU

Di belakang sekolah aku menunggumu
Kalau ada lewat kan ku tapaki jejakmu
Jejak sandal yang kau tapakkan ke bumi itu
Nanti akan aku ikuti sampai ke rumahmu
Kalau kamu masih ingin main ke rumahku
Aku setuju
Biar kamu tahu kalau rumahku itu kumuh
Berdebu, banyak jangkrik di dalamnya
Dan yang pasti rumahku itu akan runtuh
Kalau saja ada angin sedikit menerjang
Apa lagi ada seorang tamu hinggap mampir
Itu pun kalau ada, karena rumahku kumuh
Tapi tenang
Kalau kamu masih ingin main ke rumahku
Aku pasti memperbaikinya
Aku akan memoles rumahku itu dengan dinding kaca mengkilap
Biar kamu kerasan tinggal disana
Dan sebisa mungkin membuat kamu tak kemana-mana
Aku akan menemuimu di rumahku
Setelah kamu masuk
Pintu rumahku akan aku gembok
Layaknya Abu Nawas menggombok rumahnya
Aku yakin dan akan meyakinkanmu
Kalau gembok itu takkan hancur dan takkan lepas
Meski seribu kunci coba dimasukkan
Karena kuncinya ada di tanganku
Dan kan ku serahkan kepadamu kunci itu
Kalau kamu mau
Dan terserah kamu
Kapan mau membuka pintu rumahku itu
Yang pasti aku akan betah di rumahku
Selama kamu ada di rumah kumuhku itu
Kalau kamu mau membukanya
Lalu pulang ke rumah indah istanamu
Dengan senang hati
Aku akan mengantarmu sampai tujuan
Hingga orang tua kamu tahu
Kalau anaknya telah sampai di rumah indah istana
Dengan pengantar seorang lelaki yang mempunyai rumah kumuh
Kalau kamu mempersilahkan aku masuk
Oh, dengan senang hati berbunga-bunga aku akan masuk
Pasti aku betah ada di dalam rumahmu
Dan aku yakinkan pada hatiku
Ini rumahmu
Ini rumah indah istanamu
Yang hatiku selalu mengharapnya untuk menginap
Ya, menginap
Menginap selamanya
Kalau siang hari-hariku habis denganmu



Perpustakaan Al-Majidiyah
Bata-Bata,
23 April 2008
20:20